Buku karya Petrik Matanasi Berjudul "Ikut NICA dan Berontak"

 

Kata Pengantar Penulis:

NICA, mengingatkan frase berulang dari banyak narasi sejarah Indonesia. “NICA datang ke Indonesia membonceng sekutu”, begitulah kira-kira yang tertulis. NICA sendiri adalah Nederlands Indische Civil Administration, sebagai pemerintah persiapan Belanda untuk menduduki dan mengambil alih pemerintahan sipil di Indonesia. Intinya, NICA adalah bagian dari Belanda. Antara 1945-1949, NICA = Belanda.

Lebih banyak buku sejarah revolusi Indonesia yang beredar di Indonesia, lebih banyak bercerita tentang orang-orang pro-republik. Dan, tentang pihak Belanda seolah dianggap tidak penting. Inilah hebatnya Indonesia masa kini, membenci tapi tak mau tahu bagaimana musuhnya yang dibencinya. Pembelajaran sejarah di Indonesia sangatlah aneh, karena begitu nyaman hanya dengan melihat di satu sisi saja dan tak mau melihat sisi yang lain, dalam hal ini musuhnya.

Kumpulan tulisan ini, saya maksudkan untuk memberikan gambaran sedikit tentang apa yang disebut musuh orang Indonesia pro-republik di zaman kemerdekaan. Karena, orang Indonesia sendiri lebih asyik memandang dari sisi dirinya saja. Tentu saja bukan untuk mengkampanyekan dikotomi Pahlawan dan Pengkhianat! Saya pribadi tidak suka memvonis mereka sebagai pengkhianat atau semacamnya dalam tulisan ini. Bagi saya, hal itu sangatlah dangkal.

Tulisan ini adalah bagaimana Indonesianis lokal macam saya melihat pihak Belanda semasa Revolusi Kemerdekaan Indonesia dan sesudahnya. Dan juga bagaimana melihat sejarah revolusi dari sisi yang berbeda dari sejarawan berlebel sejarawan nasional Indonesia lainnya. Tulisan ini hanyalah proyek kecil Independen untuk melihat sejarah dengan adil.

Data-data dalam tulisan, yang menurut saya hanya kompilasi dari berbagai tulisan milik saya yang sebagian sudah ter-publish dalam blog saya ini dijadikan menjadi satu dalam tulisan ini. Sumber-sumber penulisan sudah saya kumpulkan sejak 2005, ketika saya memulai skripsi pertama saya—yang gagal meluluskan saya sebagai Sarjana Pendidikan di Sejarah UNY. Lalu bahan ketika menulis buku saya Pemberontak Tak Selalu Salah (2009).

Menarik sekali menulis orang-orang yang secara politik berbeda dengan pandangan umum orang Indonesia. Orang-orang yang bekerja sama dengan Belanda lebih menarik ketimbang orang-orang yang bergabung bersama Republik. Sudah banyak buku dengan berbagai macam bentuk, meski kebanyakan narsis, tak mau dianggap subjektif.

Tentang orang-orang yang berpihak pada Belanda, itu sulit saya temukan. Menarik sekali mencari tahu alasan mereka bergabung dengan Belanda. Bisa jadi tak sekadar cari uang dan jabatan. Bisa saja suatu hari ditemukan alasan mereka ikut Belanda karena terpaksa atau sakit.

Saya teringat novel Romo Mangunwijaya yang mulai saya baca sejak SMA dan baru selesai waktu kuliah, Burung-Burung Manyar. Di mana Teto alias Setadewa sukarela jadi Letnan KNIL dengan alasan ingin melawan produk Jepang yang bernama Republik Indonesia. Hanya karena keluarganya hancur gara-gara Jepang. Dan kepada semua hal bikinan Jepang, termasuk RI dan tentaranya, Teto selalu sinis. Jepang, produknya Republik Indonesia, harus dilawan sebagai kekuatan jahat sekaligus konyol.

Tulisan ini hanya ingin melengkapi bacaan-bacaan sejarah Indonesia yang ada. Mari kita lihat secara sekilas bagaimana kekuatan NICA yang melawan Republik Indonesia. Semoga bisa menyadarkan kita semua untuk menjadi lebih baik dan berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain.

0 Response to "Buku karya Petrik Matanasi Berjudul "Ikut NICA dan Berontak" "

Post a Comment